Cryptocurrency Ethereum

Bagi Penambang Pemula, Kalian Wajib Tahu Apa Itu Gas Fee

single-image

Fintexnews.com – Bagi para penambang, jangan kaget ketika pertama kali hendak melakukan withdrawal (penarikan) dari salah satu wallet, atau saat transaksi saat menyusun kontrak baru dalam jaringan blockchain Ethereum (ETH) dikenakan biaya Gas (Gas Fee).

Konsep dari gas fee adalah biaya transaksi di jaringan Ethereum. Namun sebenarnya, biaya tersebut adalah turunan dari segala beban dan biaya komputasi yang dikeluarkan penambang di jaringan Ethereum.

Sederhananya, Gas ini merupakan istilah pengukuran transaksi yang menunjukan biaya di jaringan blockchain Ethereum. Ini mirip dengan penggunaan meteran listrik yang menggunakan satuan kilowatt (kWH) untuk mengukur listrik di rumah. Listrik kalian tidak diukur dengan rupiah, melainkan menggunakan kWH per jam.

Harga dalam Gas Ethereum ini ditentukan dari jumlah ETH yang siap untuk kamu bayarkan dalam setiap penawaran dan permintaan antara penambang dan pengguna jaringan Ethereum melalui proses lelang. Untuk setiap unit terkecil dari Gas ini biasanya diukur dengan istilah ‘Gwei’.

Bagi yang bingung dengan Gwei, ini bisa kalian ilustrasikan dengan saat kalian membayar biaya listrik per kWH/jam. Seberapa lama penggunaan, kemudian dipakai untuk apa saja listrik di rumah, maka biaya yang kalian keluarkan besarannya akan disesuaikan dengan tarif per kWH/jam. Dan 1 Gwei ini sama dengan 0,000000001 ETH.

Dalam aktivitas rutin di sistem blockchain Ethereum, Gas Fee digunakan untuk mengalokasikan sumber daya dari mesin virtual Ethereum (EVM). Misalnya menerbitkan smart contract pada aplikasi terdesentralisasi (decentralized apps/DApps) yang berjalan di atas sistem blockchain Ethereum.

Kemudian, bisa juga untuk transaksi mengirimkan aset kripto ETH ke teman kalian dengan biaya menggunakan Ether. Selain itu, Gas fee juga berfungsi untuk mengamankan jaringan ketika melakukan pengiriman ETH.

Selain dikenal sebagai biaya transaksi, Gas Fee juga dipahami sebagai biaya yang dikeluarkan pengguna demi mengompensasi energi komputasi yang dibutuhkan penambang untuk memproses dan memvalidasi transaksi di jaringan blockchain Ethereum.

Para penambang Ethereum, yakni mereka yang memverifikasi dan memproses seluruh transaksi di jaringan Ethereum, adalah golongan yang berhak menerima atau menolak tawaran Gas Fee yang diajukan oleh pengguna. Jika tarif Gas Fee yang diajukan pengguna cukup rendah, maka penambang bisa mengacuhkan transaksi tersebut. Begitu pun sebaliknya.

Tetapi, Gas Fee juga mengenal satu konsep yang disebut Gas Limit, yakni jumlah maksimum energi atau gas yang bersedia dikeluarkan seorang pengguna dalam satu transaksi tertentu.

Semakin tinggi Gas Limit, maka seorang pengguna perlu melakukan transaksi lebih banyak lagi menggunakan ETH atau smart contract. Tujuannya, agar Gas Fee yang dibayarkan bisa lebih murah.

Masalahnya, Gas Fee ini biayanya tak murah. Kadang kala bisa melonjak tinggi di saat-saat tertentu. Contohnya, yakni saat periode maraknya Initial Coin Offering (ICO) di 2017 dan ledakan aplikasi keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi) pada 2020 silam.

Bahkan, dalam beberapa kasus, nilai tarif Gas Fee bisa melonjak gila-gilaan jika banyak kegiatan yang berjalan di atas sistem blockchain Ethereum.

img-ads

You may also like

img-ads