Market News Stok

IHSG Ambruk, Pelaku Pasar Saham Cermati Keputusan PPKM Pemerintah

single-image

Fintexnews.com – Jelang keputusan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk pada perdagangan Senin, 2 Agustus 2021 (juga merupakan hari terakhir PPKM Level 4).

IHSG diawal perdagangan tadi dibuka 0,46 persen di level 6.098,00. Namun baru beberapa menit menukik jadi 0,09 persen ke level 6.064,12, tepat jelang rilis data makro ekonomi tanah air, salah satunya terkait tingkat inflasi dan PMI (Purchasing Managers’ Index) manufakturing.

Sementara pada perdagangan pada akhir Juli, IHSG mengalami koreksi pada 26-30 Juli 2021 dan melemah 0,52 persen selama sepekan. IHSG ditutup ke posisi 6.070,03 dari pekan sebelumnya di posisi 6.101,69.

Dengan demikian, nilai kapitalisasi pasar bursa merosot 0,56 persen menjadi Rp 7.233,76 triliun dari Rp 7.274,77 triliun pada pekan lalu. Demikian mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu 31 Juli 2021.

Menurut CEO PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Suryawijaya, memasuki awal-awal Agustus 2021 pasar akan mencermati rilis data ekonomi inflasi yang diperkirakan masih terkendali.

Meskipun demikian, pergerakan IHSG hingga kini masih sangat dipengaruhi oleh sisi perlambatan ekonomi sehingga kinerja emiten yang disinyalir belum akan dapat membaik dengan cepat.

Namun, pergerakan IHSG hingga kini masih sangat dipengaruhi oleh sisi perlambatan ekonomi sehingga kinerja emiten yang disinyalir belum akan dapat membaik dengan cepat.

“Sehingga potensi penurunan terlihat lebih besar dibandingkan keinginan naik, IHSG pada hari ini berpotensi melemah. IHSG di 6.001-6.202,” ujar William dalam catatannya, seperti dikutip dari liputan6.com.

Sementara itu, Head of Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana menambahkan, PPKM dilanjutkan atau tidak akan pengaruhi pada posisi IHSG. Ia menuturkan, jika PPKM dicabut atau level diturunkan jadi level 3 akan memberikan sentimen positif untuk IHSG.

Wawan mengatakan, IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.100-6.200. Sementara itu, jika PPKM tidak dicabut, IHSG akan bergerak di kisaran 5.750-6.100.

“Kalau aktivitas terbatas bisa jadi katalis positif untuk IHSG. PPKM ini dari sisi kesehatan sebagai upaya cegah COVID-19. Pemerintah masih akan terapkan PPKM,” katanya.

Selain PPKM, Wawan menilai rilis kinerja keuangan emiten akan bayangi IHSG. Meski demikian, kinerja semester I 2021, menurut Wawan belum akan berdampak terhadap laju IHSG. “PPKM ketat baru mulai Juli 2021. Ini akan berdampak terhadap laporan keuangan kuartal III. Ini pasti beda,” kata dia.

Sejumlah sentimen pengaruhi IHSG

Dampak PPKM hanya menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pasar saham. Seperti dijelaskan Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Caroline Rusli CFA menuturkan. Menurut dia, pasar keuangan Indonesia menunjukkan kinerja cukup terjaga.

Menurut dia, hal itu tercermin dari pergerakan IHSG yang cukup stabil. Koreksi yang terjadi pada saham big caps – seperti ditunjukkan pada kinerja LQ45 – diimbangi oleh kenaikan beberapa saham mid small cap yang didorong oleh tema spesifik.

“Pada level saat ini, ekspektasi negatif di beberapa saham sepertinya mulai priced-in, sehingga kami melihat koreksi ini tampaknya tidak akan berlanjut terlalu panjang,” katanya.

Ia mengatakan, melihat pada pengalaman negara yang mengalami gelombang kenaikan kasus harian, disrupsi terhadap ekonomi dan pasar finansial cenderung lebih terbatas dikarenakan penyesuaian aktivitas masyarakat selama pandemi dan kecenderungan pelaku pasar yang ‘forward looking’ terhadap pemulihan ekonomi, didorong optimisme laju vaksinasi yang semakin cepat.

“Kondisi makro ekonomi yang lebih suportif seperti masuknya investasi portofolio asing, kinerja ekspor yang tinggi, CAD yang rendah dan cadangan devisa yang tinggi juga membantu menjaga stabilitas pada nilai tukar rupiah,” ujar dia.

Adapun, risiko yang menjadi perhatian, menurut Caroline, defisit anggaran pemerintah menjadi salah satu risiko sebagai akibat dari penerapan PPKM Darurat.

Hal ini mengingat PPKM Darurat akan mengharuskan pengucuran stimulus kembali untuk mendorong perekonomian untuk masyarakat kalangan bawah sehingga ada risiko realokasi anggaran belanja pemerintah dari sektor yang dianggap lebih rendah prioritasnya.

Bagaimanapun kondisi pasar saat ini bergantung dengan kebijakan pemerintah. Mereka cemas terutama terkait PPKM dan kebijakan anggaran. Para pelaku pasar saham akan mencermati segala keputusan stake holder terkait dua kebijakan tersebut, termasuk rilis data ekonomi makro yang berkaitan dengan inflasi dan PMI Manufaktur.

“Secara teknikal, indeks acuan diproyeksikan masih akan bergerak pada rentang konsolidasi 6.000-6.160,” demikian mengutip laporan PT NH Korindo Sekuritas Indonesia, Senin, 2 Agustus 2021.

img-ads

You may also like

img-ads