Market News Stok

IHSG Melemah Lagi, Disinyalir Pemicunya Sentimen Negatif Perpanjangan PPKM

single-image

Fintexnews.com – Pemerintah telah memutuskan memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Jawa-Bali selama sepekan ke depan dan dua pekan untuk wilayah luar Jawa-Bali.

Perpanjangan PPKM ini disinyalir bakal menjadi sentimen negatif untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dan betul, kemarin IHSG ditutup melemah. Meskipun, pelemahan ini sangat beragam.

IHSG pada perdagangan kemarin kembali ditutup ambruk 1,22 persen ke level 6.127,46. IHSG sempat bergerak menguat tipis-tipis pada perdagangan sesi I kemarin. Namun setelah sesi kedua dibuka, IHSG tak mampu kembali ke zona hijau dan kembali ke level psikologis 6.100.

Pagi ini, Selasa 10 Agustus 2021, data perdagangan mencatat nilai transaksi sedikit naik menjadi Rp 20,4 triliun. Terpantau, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 727 miliar di pasar reguler. Sebanyak 157 saham naik, 357 saham turun dan 142 lainnya stagnan.

Analis PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menuturkan, IHSG kembali dalam tekanan seiring PPKM level 4 kembali diperpanjang. Di sisi lain, ada PPKM berdampak positif dengan kasus COVID-19 yang sudah mulai turun untuk kasus harian.

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan menuturkan, hasil evaluasi penerapan PPKM level 4 di Jawa-Bali menunjukkan penurunan kasus positif COVID-19 mencapai lebih dari 50 persen. Luhut mengatakan, dari data yang didapat penurunan telah terjadi hingga 50,6 persen dari puncak kasus COVID-19 pada 15 Juli 2021.

Sukarno menuturkan, IHSG dapat kembali uji level support 6.096 jika berhasil bertahan atau tidak breakdown support. “Hati-hati jika break bisa lanjut turun lagi ke next support. IHSG sedang berada di dalam area trendline support dalam jangka pendek,” katanya, dikutip dari liputan6.com.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada menyampaikan hal sama. PPKM level 4 yang diperpanjang dapat menjadi sentimen negatif. Hal ini karena membatasi aktivitas masyarakat. Memang sisi lain, menurut Reza, ada PPKM dianggap telah menurunkan kasus COVID-19.

“Kegiatan bisnis belum bisa berjalan sesuai harapan. Harapan awalnya PPKM levelnya dapat diturunkan. Perpanjangan (PPKM-red) bisa akan pengaruhi kondisi pasar,” ujarnya.

Sedangkan untuk mata uang rupiah pada perdagangan kemarin ditutup melemah tipis melawan dolar AS pada perdagangan Senin kemarin. Tetapi rupiah bisa dikatakan cukup kuat menahan tekanan dolar AS sebab pelemahannya tipis-tipis saja.

Melansir data Refintiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah tipis 0,07 persen ke Rp 14.360 per USD. Setelahnya, rupiah sempat stagnan di Rp 14.350 per USD, sebelum melemah 0,24 persen ke Rp 14.385 per USD dan berakhir sama seperti pada pembukaan, yakni melemah 0,07 persen ke Rp 14.360 per USD.

Sementara di kurs tengah BI atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah berada di Rp 14.378 atau turun tipis 0,06 persen dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Namun rupiah tidak sendirian, karena mayoritas mata uang Asia juga cenderung melemah tipis di hadapan USD.

Hingga penutupan pasar Senin kemarin, hanya yuan China, yen Jepang, peso Filipina, baht Thailand, dan dolar Taiwan yang mampu menguat dihadapan sang greenback.

Sementara itu, pergerakan harga Surat Berharga Negara (SBN) pada perdagangan kemarin terpantau melemah, ditandai dengan naiknya imbal hasil (yield). Investor kembali melepas SBN pada perdagangan kemarin.

Hanya yield SBN bertenor 1 tahun yang mengalami penurunan pada perdagangan kemarin, yakni turun 5,5 basis poin (bp) ke level 3,092 persen. Sementara itu, yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi pemerintah kembali naik sebesar 5,6 bp ke level 6,344 persen.

img-ads

You may also like

img-ads