Cryptocurrency News

Jual Bitcoin dan Altcoin, JPMorgan Jadi Bank Investasi Besar AS Pertama Kelola Aset Crypto

single-image

Fintexnews.com – Kabar mengejutkan datang dari dunia perbankan Amerika Serikat (AS). Salah satu bank investasi multinasional terbesarnya, JPMorgan Chase, dikabarkan masuk ke pasar cryptocurrency.

Bila ini benar, maka JPMorgan Chase akan menjadi bank terbesar di AS pertama yang akan mengelola manajemen kekayaan dengan akses ke bitcoin dan altcoin–aset crypto selain bitcoin–lain kepada semua klien mereka.

Kabar ini tentu mengejutkan mengingat sebelumnya CEO JP Morgan Jamie Dimon bisa dibilang termasuk salah satu orang yang secara terbuka dan lantang menentang bitcoin. Menurut dia bitcoin merupakan penipuan besar.

Dimon juga sempat menegaskan kalau Ia bukan pendukung bitcoin dan tidak peduli dengan aset crypto tersebut. Meskipun ia telah menyatakan pandangan pribadinya, banyak klien bank yang berkantor pusat di New York ini tidak sependapat dengannya.

Lalu seperti menjilat ludah sendiri, tiba-tiba perusahaan Dimon harus menuruti permintaan para kliennya tersebut. Pertimbangan bisnis JPMorgan sebenarnya bisa dimaklumi mengingat lini bisnis konsultan keuangan di JPMorgan mengelola dana klien mencapai USD 630 miliar atau setara Rp 9.135 triliun (kurs Rp 14.500/USD).

Dengan aset kekayaan sebesar itu, wajar bila kemudian demi pertimbangan bisnis sekarang JPMorgan dapat menerima pesanan untuk membeli dan menjual lima produk crypto; yaitu Bitcoin Trust Grayscale, Bitcoin Cash Trust, Ethereum Trust, produk Ethereum Classic, dan Bitcoin Trust Osprey Funds.

Perubahan kebijakan tersebut berlaku efektif pada 19 Juli. Hal ini menurut memo internal yang dilaporkan Business Insider dari Forbes, Senin 26 Juli 2021. Kebijakan baru ini berlaku untuk semua klien JPMorgan dari mulai klien individual yang menggunakan aplikasi perdagangan Chase hingga klien kaya raya yang dengan pelayanan privat.

Meskipun demikian, penasihat keuangan tidak diizinkan untuk merekomendasikan produk crypto kepada klien mereka. Mereka juga diharamkan memberi jasa konsultasi secara eksplisit dengan meminta para klien untuk melakukan perdagangan crypto.

Sebelumnya, JP Morgan hanya mengizinkan klien untuk menginvestasikan kekayaan pribadi dalam bentuk aset bitcoin yang dikelola secara aktif yang dititipkan pada perusahaan crypto NYDIG.

Perluasan akses pada produk crypto untuk klien JPMorgan dilakukan karena minat ritel di pasar crypto sedang meningkat, terutama setelah bitcoin mencapai harga tertinggi sepanjang masa di harga USD 65.654 (Rp 951,98 juta) pada 14 April 2021.

Sejak itu, harga crypto memang telah mengalami penyusutan, namun permintaan ritel untuk memperoleh eksposur ke kelas aset volatil sebagai penyimpan nilai atau diversifikasi portofolio tetap masih kuat.

“Kami senang bergabung dengan platform kekayaan di JPMorgan. OBTC [Osprey Bitcoin Trust] tetap menjadi dana bitcoin publik dengan harga terendah di AS dan kami percaya klien JPMorgan akan melihat nilai dalam produk tersebut,” kata Pendiri dan CEO Osprey Funds Greg King, seperti dilansir Forbes.

Pada perdagangan Senin 26 Juli 2021, bitcoin dan ethereum melanjutkan reli kenaikan harga. Bitcoin menyentuh harga Rp 561 juta dan kenaikan harga 11 persen dalam waktu 24 jam. Ethereum juga telah melewati Rp 32 juta.

Kenaikan ini sudah terjadi semenjak 3 hari yang lalu. Event internasional The B Word Conference yang menghadirkan CEO Tesla Elon Musk dan CEO Twitter Jack Dorsey pada pekan lalu membuat harga bitcoin dan ethereum rally selama 3 hari berturut-turut.

Isu JPMorgan Kelola Aset Crypto Disambut Pasar Indonesia

CEO Indodax Oscar Darmawan menanggapi rencana JPMorgan mengelola aset crypto ini. Menurut dia, langkah JPMorgan ini adalah sejarah baru dalam dunia finansial dan perbankan, di mana bank terbesar di dunia JPMorgan telah menerima pengelolaan dana investasi aset kripto.

Ia menganalisis, ini terjadi karena banyaknya permintaan dari nasabah atau klien dari bank itu. Oscar mengungkapkan bahwa warga AS khususnya nasabah JPMorgan telah melihat bitcoin sebagai aset. Hal ini juga diungkapkan oleh Kepala Manajemen Kekayaan JPMorgan, Mary Callahan Erdoes.

“Jadi, para nasabah AS sudah melihat aset kripto seperti Bitcoin adalah aset, dan tidak bisa dipandang remeh. Inilah yang membuat nasabah atau klien JP Morgan banyak yang meminta produk investasi aset kripto di JP Morgan,” kata Oscar.

Padahal, Oscar melanjutkan, pada mulanya JPMorgan adalah bank yang anti dengan crypto. Ia menyinggung sikap Jamie Dimon yang sempat menyatakan bahwa bitcoin adalah bentuk penipuan besar.

Namun hal itu telah dibantahnya belakangan ini. JPMorgan akhirnya ikut mempercayai bitcoin sebagai aset finansial yang baik sehingga ditawarkan kepada nasabahnya.

“Karena permintaan dari nasabah terhadap aset crypto terus berdatangan. Hingga akhirnya, JP Morgan menerima pengelolaan dana investasi dari klien ritelnya,” terang Oscar.

Nantinya, akan ada banyak bank-bank lain yang bisa mengelola dana investasi berbentuk aset crypto. Tidak menutup kemungkinan, dua pesaingnya Goldman Sachs dan Morgan Stanley akan melakukan hal sama.

Morgan Stanley, kata dia, bisa saja lebih dulu karena bank itu telah mengajukan ke SEC (Otoritas Keuangan AS). “Bahkan, bank di negara lain juga bisa jadi meniru langkah JP Morgan,” kata Oscar.

Oscar melanjutkan, ini membuktikan bahwa aset kripto adalah teknologi dan produk keuangan yang tidak bisa dibendung. Karena aset kripto, memang dibutuhkan oleh orang-orang, mengingat fungsinya sebagai aset untuk menyimpan kekayaan.

img-ads

You may also like

img-ads