Investment

Mengenal Istilah Yield Farming dan Crypto Staking

single-image

Fintenews.com – Ada banyak istilah dipakai para trader dalam dunia crypto. Salah satunya crypto staking dan yeald farming. Apa maksudnya? Yeald farming ini ibarat kata seorang petani yang ingin menjadi kaya. Karena dia seorang petani, maka caranya menjadi kaya adalah dengan ‘menanam’ benih yang baik hingga membuahkan hasil yang berlimpah.

Nah, begitu juga dengan dunia cryptocurrency. Yield Farming ini menjadi salah satu tren terbaru para trader, yakni dengan ‘menanam’ aset kripto di dompet digital lalu membiarkannya berkembang dan berbuah dengan sendirinya. Namun banyak yang bilang, kegiatan mengeruk cuan dengan cara menanam ini sebenarnya disebut sebagai crypto staking. Tapi ada juga yang bilang yield farming. Lantas, sebenarnya apa yield farming dan staking?

Untuk menyelami perbedaan keduanya, tentu kamu harus memahami apa pengertian sesungguhnya dari yield farming dan crypto staking. Secara garis besar, yield farming adalah kegiatan di mana pengguna bisa menabung aset kripto dan meminjamkannya ke pengguna lain untuk mendapatkan imbal hasil dalam bentuk aset kripto.

Kegiatannya sendiri mirip dengan menabung biasa di bank. Kamu hanya tinggal menyimpan tabunganmu di dompet digital dan kemudian menerima ‘bunga’ atas kegiatan tersebut. Namun, kamu menyimpan aset kripto tersebut di platform DeFi yang berbasis kolam pendanaan (liquidity pool).

Kolam pendanaan ini merupakan sistem keuangan terpusat, seperti halnya bank yang memiliki kewenangan untuk memberikan pinjaman. Nanti nasabah bank yang meminjam akan mengembalikan dana tersebut beserta bunga kepada bank. Ataupun sebaliknya, ketika nasabah menabung biasa atau dengan deposito, bank akan memberikan mereka bunga sebagai imbalan.

Nah, pada DeFi cara itu diadopsi sedemikian rupa namun tanpa perantara. Peran bank yang semula adalah sebagai pusat kontrol dana tersebut, digantikan dengan teknologi smart contract yang ada di dalam protokol blockchain. Tentunya, strategi setiap protokol berbeda sesuai dengan algoritma sistem mereka masing-masing.

Sistem keuangan terdesentralisasi atau DeFi di ruang blockchain tersebut faktanya semakin hari semakin berkembang. Inovasi ini digandrungi oleh semakin banyak orang karena interest/bunga yang ditawarkan.

Lalu apa itu crypto staking? crypto staking adalah kegiatan di mana pengguna aset kripto dapat mendulang cuan hanya dengan memvalidasi transaksi atau segala aktivitas yang terjadi di atas sistem blockchain.

Crypto staking diturunkan dari sistem algoritma konsensus Proof-of-Stake yang berlaku di dalam sistem Ethereum 2.0. Di dalam algoritma Proof-of-Stake, seseorang dapat menambang atau memvalidasi transaksi aset kripto di blockchain sesuai dengan jumlah koin yang ia ‘kunci’.

Artinya, semakin banyak koin yang dimiliki, maka mereka punya daya tawar (stake) yang tinggi dalam melakukan hal tersebut. Nah, di situlah sumber cuan yang didapatkan para stakers. Saat ini, banyak platform desentralisasi yang menawarkan jasa staking kepada para penggunanya.

Mereka hanya perlu menyediakan aset kripto untuk staking dengan ‘menyimpannya’ ke dompet digital dalam jangka waktu tertentu. Setelahnya, platform tersebut akan melakukan staking menggunakan tabungan aset kripto dari sang pengguna.

Nantinya, pengguna akan mendulang cuan dari aktivitas tersebut secara santai tanpa harus berurusan dengan aspek teknis dari staking. Sebab, aspek tersebut akan dikerjakan oleh masing-masing platform desentralisasi. Ini sebenarnya mirip dengan yeald farming, yang sama-sama menyimpang asetnya di dompet figital dalam jangka waktu tertentu untuk mendapatkan cuan.

Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak yang menganggap bahwa yield farming adalah bagian dari crypto staking atau sebaliknya. Pendek kata, yield farming ini ada pada sistem blockchain bitcoin dan DeFi, sementara crypto staking berlaku dalam sistem Ethereum.

Perbedaan Yield Farming vs Crypto Staking dikutip dari berbagai sumber:

1. Perbedaan tujuan

Meskipun demikian, antara yield farming dan crypto staking memiliki perbedaan. Perbedaan pertama dari yield farming vs crypto staking adalah tujuan kegiatan itu sendiri. Crypto staking yakni kegiatan untuk mengeruk cuan dengan memvalidasi transaksi atau penambangan baru di aset kripto berbasis algoritma konsensus proof-of-stake.

Nah, agar sistem proof-of-stake berjalan dengan baik, maka dibutuhkan banyak validator agar algoritme konsensus ini berjalan dengan baik. Selain itu, validator ini juga berguna untuk mencegah transaksi mencurigakan yang terjadi di atas sistem blockchain tersebut.

Kesimpulannya, tujuan dari crypto staking adalah untuk meningkatkan keamanan sistem jaringan blockchain itu sendiri. Semakin banyak pengguna yang melakukan staking, maka semakin susah pula peretas untuk menyerang jaringan tersebut. Sebab, semakin banyak pihak yang akan memvalidasi transaksi dan aktivitas lainnya di atas blockchain.

Lantas, bagaimana dengan tujuan yield farming? Tujuan dari yield farming sendiri adalah wadah bagi pemilik aset kripto untuk meminjamkan asetnya terhadap mereka yang butuh pendanaan. Kurang lebih, sifat ini sama dengan institusi jasa keuangan konvensional.

2. Masa ‘Mengunci’ Aset Kripto

Dalam hal ini, yield farming boleh jadi lebih fleksibel dibandingkan crypto staking. Yield farming tidak mengharuskan penggunanya untuk ‘mengunci’ aset kripto di dalam dompet digitalnya dalam satu rentang waktu tertentu. Pengguna bisa menarik tabungan aset kriptonya kapan saja.

Sementara itu, crypto staking memberlakukan kebijakan yang lebih ketat. Pengguna rata-rata diharuskan menyimpan aset kriptonya dalam jangka waktu setahun. Selama jangka waktu tersebut, pengguna tak bisa memindahkan atau menjual asetnya. Hal ini bisa menjadi buah simalakama ketika pasar kripto sedang amburadul. Sebab, nilai APY yang ia terima bisa jadi tak sesuai dengan penurunan harga di aset kripto.

Sebagai contoh, seorang pengguna mungkin akan mendapat APY sebesar 5 persen setahun dengan melakukan crypto staking selama setahun. Namun, di waktu yang sama, terjadi penurunan harga aset kripto sebesar 10 persen. Artinya, ia harus mendulang rugi sebesar 5 persen dari nilai tabungan awal.

3. Perbedaan tingkat imbal hasil

Biasanya, tingkat imbal hasil yield farming akan lebih tinggi dibandingkan crypto staking. Ini lantaran yield farming dianggap sebagai kegiatan yang berorientasi bisnis ketimbang crypto staking.

Secara rata-rata, aktivitas crypto staking biasanya akan menghasilkan tingkat imbal hasil, atau Annual Percentage Yield (APY), antara 5 persen hingga 15 persen per tahun. Di sisi lain, imbal hasil dari yield farming bisa mencapai lebih dari 100 persen di beberapa kasus.

img-ads

You may also like

img-ads