Investment

Sebagai Pemula, Kamu Harus Tahu Apa Itu Decentralized Finance (DeFi)

single-image

Fintexnews.com – Pelan tapi pasti, trend perdagangan aset crypto terus bergeliat dan tumbuh. Para investor semakin banyak yang melirik instrumen investasi cryptocurrency ini sebagai alternatif yang menawarkan imbal hasil menarik. Apalagi, instrumen aset crypto sendiri jumlahnya sangat beragam, sehingga semakin banyak memberi pilihan investasi bagi investor.

Selama ini banyak sekali instrumen investasi crypto yang beredar di pasar exchange. Namun salah satu yang menarik dan perlu kamu ketahui sebagai pemain pemula di dunia cryptocurrency adalah aset crypto yang masuk dalam kategori program decentralized finance (DeFi).

Kamu mungkin bertanya-tanya apa itu DeFi? DeFi sebenarnya sebuah aplikasi yang menggunakan smart contract–sistemnya berjalan lazimnya fitur blockchain Ethereum–dimana untuk mendapatkan pinjaman aset kripto bisa menggunakan jaminan aset crypto lainnya. Misalnya, kamu bisa mengagunkan Ether (ETH) untuk mendapatkan pinjaman berupa stablecoin DAI bernilai dolar AS (USD).

Adapun untuk smart contract sendiri merupakan fitur blockchain Ethereum. Siapa saja bisa menggunakannya untuk membuat aplikasi keren. Smart contract bisa juga dibilang sebagai “bahasa pemrograman” khusus di blockchain. Programer bisa memanfaatkan kode-kode itu untuk membuat aplikasi yang berjalan sepenuhnya di blockchain (desentralistik).

Pesaing terkuat Ethereum adalah Binance Smart Chain atau BSC yang diluncurkan pada September 2020. BSC mengklaim mampu mengembangkan decentralized application berkinerja tinggi (DAapps). Jika Ethereum menggunakan teknologi ERC-20, BSC menggunakan teknologi BEP-20 yang memungkinkan transfer token lebih mudah dari satu rantai ke rantai lain. Binance Smart Chain dapat memproses blok 3 detik dengan menggunakan Proof of Staked Authority (PoSA).

Penggunaan smart contract menjamin sedikitnya campur tangan manusia dalam prosesnya. Pengguna cukup meyakini bahwa kode program itu berjalan semestinya secara otomatis, tanpa perantara pihak ketiga: bank, mastercard, paypall atau lainnya.

Smart contract tersebut menjadi kelebihan dari DeFi. Aplikasi tersebut menjanjikan nilai-nilai transparansi, di mana kode program yang digunakan terbuka dan bisa dilihat oleh publik. Namun demikian, kekeliruan pemaduan kode yang berbeda bisa berujung bencana, seperti yang terjadi pada Lendf.me pada beberapa waktu lalu: dana pengguna raib setara ratusan miliar rupiah. Meskipun begitu, DeFi bisa dibilang sebagai pembuktian nyata teknologi blockchain.

Lihat saja komentar CEO Triv.co.id Gabriel Rey tentang DeFi. Ia mengatakan, dari banyaknya aset kripto yang beredar saat ini, aset kripto yang masuk ke dalam kategori program decentralized finance (deFi) adalah salah satu yang menarik karena banyak ventura capital (VC), bahkan Wall Street telah bermain di DeFi.

“DeFi seperti SUSHI dan COMP. Menurut saya, jauh lebih menarik karena banyak venture capital bahkan Wall Street juga telah bermain DeFi sejak beberapa bulan ke belakang. Misalnya venture capital Andreessen Horowitz yang baru saja berinvestasi senilai USD 4,4 juta pada sebuah deFi,” kata CEO Triv.co.id Gabriel Rey dikutip dari Kontan.co.id, Selasa 4 April 2021.

Di Indonesia sendiri, Gabriel mencontohkan, saat ini khusus para pengguna Triv juga lebih menyukai coin atau token yang berbau deFi seperti SUSHI maupun 1inch yang merupakan salah satu coin untuk decentralised exchange. Dari segi harga, kata Gabriel, token berkategori deFi terus naik jika dilihat dalam beberapa bulan ke belakang.

Secara teori, ketika terdapat banyak institusi atau ada suntikan investasi besar ke sebuah token–banyak pembelinya–maka secara fundamental hal tersebut menjadi sentimen positif untuk prospek token tersebut ke depannya. DeFi sendiri saat ini cukup populer di komunitas blockchain karena memadukan nilai-nilai utama blockchain ke dalam bisnis keuangan yang sudah ada selama ini.

Pandu Sastrowardoyo dari Blocksphere memberi penjelasan yang lebih sederhana tentang konsep yang diusung DeFi . Menurut dia, sistem aplikasi tersebut sejatinya tidak baru-baru amat. Pada dasarnya, kata dia, DeFi mengusung sistem keuangan terbuka yang artinya tidak ada kendali atau otoritas tertinggi yang biasanya dipegang oleh bank dalam produk keuangan tradisional.

Produk DeFi yang ada saat ini rata-rata menyasar bisnis lending. Beberapa produk DeFi yang sudah cukup terkenal di dunia di antaranya adalah Compound, MakerDAO, dan Synthetic. Namun sesungguhnya potensi DeFi bisa menyapu semua jenis bisnis di industri keuangan. Tabungan, pinjaman, trading, hingga asuransi yang menurut Pandu dapat ditawarkan dengan protokol DeFi.

Meski potensi DeFi cukup luas, lending menjadi sektor yang paling digemari para penyelenggara protokol DeFi. Pada dasarnya cara kerja DeFi ditentukan dua hal penting, yakni smart contract dan token. Kedua hal ini yang menggantikan seluruh proses yang dijalankan oleh middleman/pihak ketiga.

Di DeFi yang menghasilkan produk lending, borrower dapat memperoleh dananya dengan menjaminkan aset kripto yang ada. Bunga yang dipasang juga bersifat dinamis. Model yang digunakan dalam sistem DeFi memungkinkan borrower membayar lebih murah jika permintaan pinjaman yang ada lebih sedikit. Sebaliknya, jika permintaan sedang tinggi, lender atau investor bisa memperoleh bunga yang lebih tinggi.

Sebelum 2020, produk DeFi sebenarnya sudah bermunculan. Namun keberadaannya baru menjadi sensasi sejak tahun lalu. Ini bisa dilihat dari total nilai yang terkunci di dalam ETH pada 2020 mencapai USD 14,74 miliar atau sekitar Rp 206 triliun, meningkat pesat dari total nilai 2018 dan 2019 yang hanya ratusan juta dolar saja.

Selain nilai bitcoin yang terus melejit dan diminati pasar, kenaikan drastis DeFi juga disebabkan penerimaan regulator. Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (US Securities and Exchange Commission), misalnya, membuat keputusan besar dengan menyetujui dana kelolaan berbasis ethereum pada Juli lalu.

Di samping itu, pemain-pemain besar industri keuangan, seperti JP Morgan dan ANZ, mulai memakai blockchain untuk diintegrasikan ke sistem mereka. Semarak DeFi pun sudah mulai berlangsung di Tanah Air. Meski produk-produk DeFi di sini masih bisa dihitung dengan jari, perbincangannya di komunitas kripto dan keuangan cukup ramai.

Misalnya VynDAO, UNYdex, dan Tadpole Finance merupakan contoh DeFi buatan dalam negeri. Pengecualian untuk Tadpole, DeFi rintisan Indodax tersebut justru sudah melantai di Bithumb Global, sebuah bursa di Korea Selatan yang memperdagangkan fiat dan kripto.

Terlepas dari segala keunggulannya, DeFi juga punya sejumlah tantangan. Pertama, blockchain tidak sepenuhnya bebas dari ancaman keamanan. Berikutnya nilai jaminan yang masih terlampau tinggi, bahkan bisa lebih tinggi dari nilai pinjamannya sendiri. Pandu juga menambahkan ada faktor ancaman penipuan yang memanfaatkan hype DeFi.

Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) Oham Dunggio mengatakan kemunculan DeFi yang cukup sensasional sejak tahun lalu menjadi berkah tersendiri. Meski secara konsep yang dibawa tidak baru-baru sekali, namun Oham menilai DeFi sanggup menggerakkan entitas-entitas bisnis berinovasi lebih jauh di atas jaringan blockchain.

Oham meyakini perusahaan-perusahaan di Indonesia segera mengadopsi inovasi anyar tersebut meski hanya sekadar eksperimen saja. “Hype dari DeFi ini lebih banyak positifnya ketimbang hype yang dibawa ICO (initial coin offering) dulu. Sebab DeFi ini lebih fokus ke produk, tidak seperti ICO yang lebih fokus menghimpun uang,” kata Oham.

img-ads

You may also like

img-ads